Kamis, 04 April 2013

MAKALAH ANGKA MELEK HURUF (AMH)


MAKALAH
ANGKA MELEK HURUF (AMH)
DI KABUPATEN BANJAR






OLEH
NAMA : SITI SALASIAH
NIM : A1A511208


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI
JURUSAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
2013




BAB I
PENDAHULUAN


A.      LATAR BELAKANG
Pembangunan pendidikan di Indonesia telah menunjukkan keberhasilan yang cukup besar. Wajib Belajar 6 tahun, yang didukung pembangunan infrastruktur sekolah dan diteruskan dengan Wajib Belajar 9 tahun adalah program sektor pendidikan yang diakui cukup sukses. Hal ini terlihat dari meningkatnya partisipasi sekolah dasar dari 41 persen pada tahun 1968 menjadi 94 persen pada tahun 1996, sedangkan partisipasi sekolah tingkat SMP meningkat dari 62 persen tahun 1993 menjadi 80 persen tahun 2002 (Oey-Gardiner, 2003).
Tetapi dibalik keberhasilan program-program tersebut, terdapat berbagai fenomena dalam sektor pendidikan. Kasus tinggal kelas, terlambat masuk sekolah dasar dan ketidakmampuan untuk meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi merupakan hal yang cukup banyak menjadi sorotan di dunia pendidikan. Kasus putus sekolah yang juga banyak terjadi terutama di daerah pedesaan menunjukkan bahwa pendidikan belum banyak menjadi prioritas bagi orang tua. Rendahnya prioritas tersebut antara lain dipicu oleh akses masyarakat terhadap pendidikan yang masih relatif kecil, terutama bagi keluarga miskin yang tidak mampu membiayai anak mereka untuk meneruskan sekolah ke jenjang lebih tinggi. 
Selain itu, ujian akhir sekolah dianggap tidak dapat menjadi ukuran kemampuan murid. Nilai rata-rata ujian akhir yang rendah seringkali diikuti oleh persentase kelulusan yang cukup tinggi. Pada tahun ajaran 1998/1999, rata-rata nilai Ujian Akhir Nasional (UAN) SMA di Indonesia adalah 3,99. Padahal nilai minimum untuk lulus adalah 6. Tetapi pada periode tersebut, 97 persen siswa SMA dinyatakan lulus (Oey-Gardiner, 2000). Hal ini menunjukkan bahwa nilai ujian akhir bukanlah satu-satunya alat untuk menyaring kelulusan murid. Namun yang terpenting adalah bagaimana cara untuk memberantas buta huruf yang ada di Indonesia, khususnya yang akan di bahas dalam makalah ini adalah tingkat pendidikan dan melek huruf yang di kabupaten Banjar.

B.       RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka yang menjadi permasalahan adalah sebagai berikut:

1.      Bagaimana persentase melek huruf yang ada di kabupaten Banjar ?
2.      Bagaimana kualitas penduduk menurut tingkat pendidikan?
3.      Apakah yang menyembabkan rendahnya tingkat pendidikan yang ada di kabupaten Banjar?

C.      TUJUAN

1.      Mendeskripsikan persentase angka melek huruf (AMH) yang ada di  kabupaten Banjar.
2.      Menjelaskan mengenai indeks pembanguanan (IPM) khususnya dibidang pendidikan
3.      Meningkatkan tingkat pendidikan penduduk yang ada di kabupaten Banjar

D.      MANFAAT

1.      Dapat digunakan untuk mengukur keberhasilan program pemberantasan buta huruf
2.      Dan untuk menunjukkan kemampuan penduduk di suatu wilayah dalam hal menyerap informasi, serta menunjukkan kemampuan penduduk untuk berkomunikasi secara lisan dan tertulis.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


A.    PENGERTIAN MELEK HURUF
Melek aksara (juga disebut dengan melek huruf) adalah kemampuan membaca dan menulis. Lawan katanya adalah buta huruf atau tuna aksara dimana ketidak mampuan membaca ini masih menjadi masalah terutama di negara-negara Asia selatan, arab, dan Afrika utara (40% sampai 50%). Asia timur dan Amerika selatan memiliki tingkat buta huruf sekitar 10% sampai 15%. Biasanya, tingkat melek aksara dihitung dari persentase populasi dewasa yang bisa menulis dan membaca.
Melek aksara juga dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan bahasa dan menggunakannya untuk mengerti sebuah bacaan, mendengarkan perkataan, mengungkapkannya dalam bentuk tulisan, dan berbicara. Dalam perkembangan modern kata ini lalu diartikan sebagai kemampuan untuk membaca dan menulis pada tingkat yang baik untuk berkomunikasi dengan orang lain, atau dalam taraf bahwa seseorang dapat menyampaikan idenya dalam masyarakat yang mampu baca-tulis, sehingga dapat menjadi bagian dari masyarakat tersebut.
Organisasi PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan (UNESCO) memiliki definisi sebagai berikut:
Melek aksara adalah kemampuan untuk mengidentifikasi, mengerti, menerjemahkan, membuat, mengkomunikasikan dan mengolah isi dari rangkaian teks yang terdapat pada bahan-bahan cetak dan tulisan yang berkaitan dengan berbagai situasi.
Kemampuan baca-tulis dianggap penting karena melibatkan pembelajaran berkelanjutan oleh seseorang sehingga orang tersebut dapat mencapai tujuannya, dimana hal ini berkaitan langsung bagaimana seseorang mendapatkan pengetahuan, menggali potensinya, dan berpartisipasi penuh dalam masyarakat yang lebih luas.
Banyak analis kebijakan menganggap angka melek aksara adalah tolak ukur penting dalam mempertimbangkan kemampuan sumber daya manusia di suatu daerah. Hal ini didasarkan pada pemikiran yang berdalih bahwa melatih orang yang mampu baca-tulis jauh lebih murah daripada melatih orang yang buta aksara, dan umumnya orang-orang yang mampu baca-tulis memiliki status sosial ekonomi, kesehatan, dan prospek meraih peluang kerja yang lebih baik. Argumentasi para analis kebijakan ini juga menganggap kemampuan baca-tulis juga berarti peningkatan peluang kerja dan akses yang lebih luas pada pendidikan yang lebih tinggi.
Sebagai contoh di Kerala, India, tingkat kematian wanita dan anak-anak menurun drastis pada tahun 1960an, saat anak-anak gadis terdidik disaat reformasi pendidikan setelah tahun 1948 mulai berkeluarga. Walaupun begitu riset terbaru beragumentasi bahwa hasil yang didapat di atas mungkin lebih banyak disumbangkan sebagai hasil dari disekolahkannya anak-anak tersebut dibandingkan dari kemampuan baca-tulisnya saja. Walaupun begitu, diseluruh dunia fokus dari sistem pendidikan tetap merupakan konsep-konsep yang meliputi komunikasi melalui teks dan media cetak, dan hal ini masih merupakan dasar dari definisi melek aksara.
B.     DEFINISI PENDUDUK

Pengertian PendudukPenduduk adalah orang-orang yang berada di dalam suatuwilayah yang terikat oleh aturan-aturan yang berlaku dan salingberinteraksi satu sama lain secara terus menerus / kontinu. Dalamsosiologi, penduduk adalah kumpulan manusia yang menempatiwilayah geografi dan ruang tertentu. Penduduk suatu negara ataudaerahbisa didefinisikan menjadi dua:
1.      Orang yang tinggal di daerah tersebut
2.      Orang yang secara hukum berhak tinggal di daerah tersebut.Dengan kata lain orang yang mempunyai surat resmi untuk tinggaldi situ. Misalkan bukti kewarganegaraan, tetapi memilih tinggal didaerah lain.Kepadatan penduduk dihitung dengan membagi jumlahpenduduk dengan luas area dimana mereka tinggal.Pertambahan Penduduk di IndonesiaPenduduk dunia saat ini telah mencapai lebih dari 6 miliar,dimana di antara jumlah tersebut, 80 persen tinggal di negara-negaraberkembang. Sementara itu, United Nations (2001) memproyeksikanbahwa penduduk perkotaan di negara-negara berkembang terusmeningkat dengan rata-rata pertumbuhan 2,4 persen per tahun. Angkaini merupakan dua kali lipat angka pertumbuhan penduduk totalnegaranegaraberkembang pada umumnya, yakni sekitar 1,2 persen. Meskipenduduk perkotaan di negara-negara maju juga meningkat denganangka pertumbuhan yang lebih besar daripada angka pertumbuhanpenduduk totalnya, dan juga angka urbanisasinya jauh lebih besardaripada negara-negara berkembang, pertumbuhan perkotaan dinegaranegaraberkembang tetap lebih cepat disertai dengan meningkatnyapenduduk perkotaan secara absolut.Sensus Penduduk 2000 menunjukkan bahwa jumlah pendudukperkotaan di Indonesia telah mencapai lebih dari 85 juta jiwa, denganlaju kenaikan sebesar 4,40 persen per tahun selama kurun 1990-2000. Jumlah itu kira-kira hampir 42 persen dari total jumlah penduduk.Mengikuti kecenderungan tersebut, dewasa ini (2005)diperkirakan bahwa jumlah penduduk perkotaan telah melampaui 100 juta jiwa, dan kini hampir setengah jumlah penduduk Indonesia tinggaldi wilayah perkotaan. Hal ini tentu saja berdampak sangat luas padaupaya perencanaan dan pengelolaan pembangunan wilayah perkotaan.Meningkatnya proporsi penduduk yang tinggal di perkotaandapat berarti bahwa penduduk berbondong-bondong pindah dari perdesaan ke perkotaan.

C.    KOMPOSISI PENDUDUK MENURUT TINGKAT PENDIDIKAN

Komposisi penduduk menurut tingkat pendidikan di dasarkan pada :
1.      Kemampuan membaca dan menulis
Penduduk dikatakan bisa membaca dan menulis jika mereka dapat membaca dan menulis kalimat sederhana, khusus orang tuna netra dapat membaca dan menulis huruf braile.
Kemampuan penduduk untuk membaca dan menulis dapat dijadikan tolok ukur kemajuan suatu Negara, di mana Negara-negara maju biasanya penduduknya yang mampu untuk membaca dan menulis lebuh besar dibandingkan dengan Negara-negara berkembang dan Negara miskin.
2.      Tingkat pendidikan yang ditamatkan
Tamat artinya mereka yang meninggalkan sekolah setelah mengikuti pelajaran pada kelas tertinggi sampai akhir pada suatu jenjang pendidikan dengan mendapat tanda tamat/ijazah baik dari sekolah negeri maupun swasta. Biasanya disajikan dalm persentase per jenjang pendidikan yang ditamatkan.




BAB III
PEMBAHASAN


A.    ANGKA MELEK HURUF

Salah satu indikator pencapaian kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan menurut MDGs adalah angka melek huruf penduduk usia 15-24 tahun. Kelompok penduduk usia sekolah ini adalah kelompok penduduk usia produktif, sebagai sumber daya pembangunan yang seharusnya memiliki pendidikan yang memadai dan keterampilan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Oleh karena itu, dianggap penting untuk melihat perkembangan kemajuan indikator ini. Secara nasional rata-rata buta huruf perempuan lebih tinggi dibanding laki-laki. Namun demikian, di beberapa daerah seperti Sumatera Barat,Bengkulu, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, NTT, Kalteng, Sulteng, dan Sulsel angka buta huruf laki-laki jauh lebih tinggi dibanding perempuan. Perlu dilakukan analisis lebih dalam untuk mengetahui alasan mengapa penduduk laki-laki muda di daerah-daerah tersebut masih banyak yang belum mampu membaca dan menulis. Dalam aspek ini, baik perempuan dan laki-laki kelompok umur 15-24 tahun membutuhkan intervensi pemerintah dan masyarakat agar mereka tidak buta huruf dan mampu mengakses lapangan pekerjaan. Mengutip pernyataan Direktur Eksekutif UNICEF Ann M. Veneman pada peringatan Hari Penghapusan Kemiskinan Sedunia (17 October 2009), hasil sebuah penelitian menunjukkan bahwa investasi sebesar $1 untuk pendidikan bagi anak perempuan akan menghasilkan peningkatan 10 kali lipat produktivitas lebih banyak dibandingkan dengan investasi pada anak laki-laki. Dengan demikian, mempercepat kesetaraan laki-laki dan perempuan yang melek huruf akan mempercepat pertumbuhan ekonomi dengan produktivitas yang
meningkat.
B.     KUALITAS PENDUDUK MENURUT TINGKAT PENDIDIKAN DI KABUPATEN BANJAR

Menurut tingkat pendidikannya, penduduk dapat dikelompokkan menjadi penduduk yang buta huruf dan yang melek huruf. Penduduk yang melek huruf dapat dikelompokkan lagi menurut tingkat pendidikannya, seperti kelompok tidak sekolah, tidak tamat Sekolah Dasar, tamat Sekolah dasar, tamat Sekolah Menengah Pertama, tamat Sekolah Menengah Atas, tamat Akademi/Perguruan Tinggi, dan lain-lain.
Data tingkat pendidikan akan membantu pemerintah dalam menganalisis kemajuan penyelenggaraan pendidikan. Misalnya, pada tahun lalu jumlah penduduk yang masih buta huruf ada dua juta dan data tahun ini jumlahnya masih tetap dua juta, maka pemerintah akan segera mengevaluasi efektivitas program pemberantasan buta huruf. Selain itu, manfaat lain yang dapat diperoleh adalah untuk mengetahui kemajuan sumber daya manusia yang terdapat di suatu wilayah.
Tingkat pendidikan berkaitanerat dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tingkat pendidikan yang tinggi memungkinkan penduduk mengolah sumber daya alam dengan baik.  Di samping itu, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi memudahkan penduduk dalam memenuhi berbagai kebutuhan hidup, sehingga taraf hidupnya selalu meningkat. Sebaliknya, tingkat pendidikan yang rendah dapat menyebabkan lambannya kenaikan taraf hidup dan akibatnya kemajuan menjadi terhambat.

C.    INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM)
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) / Human Development Index (HDI) adalah pengukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup untuk semua negara seluruh dunia. IPM digunakan untuk mengklasifikasikan apakah sebuah negara adalah negara maju, negara berkembang atau negara terbelakang dan juga untuk mengukur pengaruh dari kebijaksanaan ekonomi terhadap kualitas hidup.
Indeks pembangunan manusia (IPM) mengukur pencapaian rata-rata sebuah negara dalam 3 dimensi dasar pembangunan manusia:
  • hidup yang sehat dan panjang umur yang diukur dengan harapan hidup saat kelahiran
  • Pengetahuan yang diukur dengan angka tingkat baca tulis pada orang dewasa (bobotnya dua per tiga) dan kombinasi pendidikan dasar , menengah , atas gross enrollment ratio (bobot satu per tiga).
  • standard kehidupan yang layak diukur dengan logaritma natural dari produk domestik bruto per kapita dalam paritasi daya beli.
D.    PENYEMBAB RENDAHNYA TINGKAT PENDIDIKAN
Tingkat pendidikan di Indonesia memang mengalami kemajuan. Meskipun demikian, tingkat pendidikan di Indonesia masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN pun Indonesia tergolong paling rendah. Beberapa hal yang menyebabkan rendahnya tingkat pendidikan di Indonesia adalah sebagai berikut.
a.       Masih kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan. Sebagian penduduk masih menganggap bahwa sekolah itu tidak penting. Untuk bekal hidup seseorang anak cukup melanjutkan pekerjaan orangtua secara turun-temurun.
b.      Pendapatan penduduk yang rendah menyebabkan anak tidak dapat melanjutkan sekolah karena tidak mempunyai biaya.
c.       Tidak meratanya sarana pendidikan. Sarana pendidikan yang dimaksud, misalnya gedung sekolah, ruang kelas, buku-buku pelajaran, alat-alat praktikum, guru yang berkualitas, dan lain-lain. Kurangnya gedung sekolah dan kurang meratanya gedung sekolah menyebabkan jangkauan pendidikan tidak merata. Kurangnya buku-buku pelajaran, alat-alat praktikum, dan guru berkualitas akan menyebabkan proses belajar tidak berjalan dengan optimal.
E.     RUMUS ANGKA MELEK HURUF (AMH)

Angka melek huruf (AMH) penduduk usia 10+
AMH penduduk usia 10+ adalah jumlah penduduk berusia sepuluh tahun keatas yang dapat membaca dan menulis kalimat sederhana dengan huruf latin.
Metode Perhitungan
Rumus yang digunakan:
AMH  =
penduduk usia 10+  ( melek huruf )
X 100%

Jumlah penduduk usia 10+

BAB IV
PENUTUP

A.    KESIMPULAN

Angka melek huruf (AMH) atau kemampuan penduduk untuk menulis dan membaca di kabupaten Banjar  pada tahun 1990 yaitu sebesar 91,65 %, pada tahun 2005 yaitu 97,24 %, dan pada tahun 2010 yaitu 93,36 %. Kemampuan menulis dan membaca ini dianggap penting karena melibatkan pembelajaran berkelanjutan oleh seseorang sehingga orang tersebut dapat mencapai tujuannya. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) / Human Development Index (HDI) adalah pengukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup untuk semua negara seluruh dunia. IPM digunakan untuk mengklasifikasikan apakah sebuah negara adalah negara maju, negara berkembang atau negara terbelakang dan juga untuk mengukur pengaruh dari kebijaksanaan ekonomi terhadap kualitas hidup. Untuk meningkatkan pendidikan penduduk, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan yaitu dengan membangun sekolah-sekolah baru terutama di daerah yang kurang jumlah sekolahnya, mengadakan perbaikan dan penambahan alat-alat praktikum, laboratorium, perpustakaan, dan buku-buku pelajaran, menambah dan meningkatkat kualitas guru, merancang program wajib belajar dan orang tua asuh, memberikan beasiswa kepada murid-murid yang berprestasi atau yang memerluakan bantuan, dan menjalankan Undang-Undang Dasar khususnya pasal 31 tentang pendidikan.


2 komentar:

  1. Kalau untuk memghitung MAH sdh ada rumusnya... Skarang yg menjadi pertanyaan berapa sih nilai minimal MAH yang harus diraih sehingga suatu daerah bisa dikatakan terbebas dari Buta huruf ?

    BalasHapus
  2. Kalau untuk memghitung MAH sdh ada rumusnya... Skarang yg menjadi pertanyaan berapa sih nilai minimal MAH yang harus diraih sehingga suatu daerah bisa dikatakan terbebas dari Buta huruf ?

    BalasHapus